"Anak sekecil itu berkelahi dg waktu, demi satu impian yg kerap ganggu tidurmu
anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu, dipaksa pecahkan karang lemas jarimu terkepal"
--Sore Tugu Pancoran--
Lagu di atas memang mewakili keadaan psikologis anak jalanan di Indonesia ini, yang tiap tahun terus bertambah jumlahnya. Data dari Kementerian Sosial menunjukkan, jumlah anak jalanan yang pada tahun 1997 masih sekitar 36.000 anak sekarang menjadi sekitar 232.894 anak.
Peningkatan jumlah anjal (anak jalanan) ini tentunya disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
1. Kemiskinan
Kemiskinan adalah alasan utama mengapa anak tersebut harus terjun ke jalan, karena keluarganya tak mampu memberi nafkah, sehingga mau tidak mau, dia harus mencari makan untuk dirinya sendiri. tentunya dg bermodalkan kemampuan yg dia miliki sbg seorang anak kecil.yang belum tau dan belum belajar apa-apa, dia hanya punya tangan untuk mengadah dan kaki untuk berjalan.
2. Keadaan rumah yang tak nyaman
Kondisi psikologis anak yang sakit karena keadaan rumah yang tak lagi nyaman seperti adanya pertengkaran orang tua, atau malah kekerasan terhadap anak itu sendiri ,menyebabkan anak tersebut memilih untuk keluar dari rumahnya, dan mencari komunitas baru.
3. Kehilangan orang tua
Seorang anak yang telah kehilangan orang tuanya, yang tidak punya kerabat lagi, atau bahkan tidak ada kerabat yg mau menghidupinya, memaksa seorang anak sekecil apapun harus berjuang keras di jalanan.
4. Orang tua yang kurang bertanggung jawab
Menurunnya peranan dan tanggung jawab orang tua untuk menafkahi anaknya juga menyebabkan anak harus terjun ke jalan. Bahkan ada pula orang tua yang malah menyuruh anaknya bekerja di jalan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.
Dan masih banyak faktor yang menyebabkan meningkatnya jumlah anjal di Indonesia.
Menjadi seorang anjal tentu saja bukan keinginan mereka, keadaan yang memaksa mereka -anak yang belum waktunya untuk mencari nafkah- untuk hidup di jalan. karena mereka tidak punya banyak pilihan seperti kita. mereka hanya punya 2 pilihan: mencari makan di jalanan atau mati.
dan tentu saja dengan kemampuan (skill) yang mereka belum punya, sehingga mereka hanya berbekal tangan untuk mengadah dan kaki untu melangkah.
oleh karena itu, seluruh masyarakat dan pihak yang berwenang, dalam hal ini adalah pemerintah, harus tanggap mengenai hal ini dan harus mencari solusi atas masalah ini. Dan solusi yang diberikan pemerintah dengan jalan merazia anjal bukanlah solusi yang tepat. Karena anjal pun masih tetap berkliaran, malahan nantinya penangkapan tersebut dapat menyebabkan kondisi psikologis anak yang semakin buruk.
Dalam situs menkokesra, Makmur Sanusi berujar, ”Pengaman pertama supaya anak tak turun ke jalan adalah orangtua dan keluarga. Dalam mengatasi anak jalanan program yang dilakukan pemberdayaan orangtua. Tetapi, itu terbatas dibanding peningkatan populasi anak jalanan, terutama di kota-kota besar,”
Ia mengakui, dana menjadi kendala dalam melaksanakan programnya.karena anggaran untuk perlindungan anak terus menurun dr tahun ke tahun. Tahun 2005 mencapai Rp 274 miliar, tahun ini hanya dialokasikan Rp 147 miliar. ”Percepatan populasi anak yang tak sebanding dengan ketersediaan anggaran menyebabkan anak bermasalah terus meningkat,” katanya. Saat ini belum diketahui siapa yang akan menangani sisa anak jalanan yang masih sekitar 96 persen dari total anak telantar itu.
Kita berharap pemerintah makin serius menangani masalah ini, karena bila kita biarkan, maka anak jalanan akan menjadi the lost generation. Indonesia akan kehilangan generasi-generasinya.
Mari kita selamatkan mereka...